Tidak ada satupun manusia yang bisa mempertukarkan seluruh air matanya hanya dengan gelak tawa. Demikian juga sebaliknya. Tidak ada manusia yang hanya dikaruniai air mata tanpa gelak tawa. Kedua-duanya senantiasa hadir dalam waktu yang bergantian.
Mirip dengan datangnya musim, setelah musim hujan datang musim kemarau. Orang-orang yang menyesali air mata sama dengan orang yang menyesali datangnya musim. Disamping sia-sia, ia juga tidak menemukan makna dalam yang hadir di balik cucuran air mata. Padahal, air mata kerap menjadi pencuci jiwa dan hati yang amat menakjubkan. Sering kali, bahkan meningkatkan rasa syukur kemudian ketika gelak tawa datang berkunjung. Dari segi kedalaman renungan, air mata tidak jarang membawa pemiliknya menyelam dalam ke sumur pemahaman dan pencerahan.
Tetes air mata mengalir pada hari ini, tanggal 27 Desember 2008 pukul 07.00 WIB ketika kudengar kabar duka yang datang melalui penghujung telepon di kota Solo. Adik sepupu kesayanganku, meninggal dunia. Innalillahi wa innailaihi rojiun..
Aku tidak bisa berkata apa-apa, aku tidak tahu harus bagaimana, melihat keluarga besar sungguh kehilangan. Ya Rabb, berikan padaku keluasan dada agar aku mampu menerima keputusan akhir dari-Mu. Kuatkan hati ini saat harapan tak menjadi kenyataan, saat asa tinggal harapan, saat angan tak berubah nyata, kuatkan duhai Rabb yang menggenggam hati ini..
Ini kedua kalinya aku sungguh merasakan kehilangan gadis kecilku, gadis kecil yang selalu banyak bicara padaku, gadis kecil yang menemaniku di kota Solo, gadis kecil yang sungguh aku tidak tahu ketika dia tiba-tiba beranjak dewasa melebihiku dan dia tidak kecil lagi. Saat pertama kali aku kehilangannya aku hanya dapat mengikhlaskan karena itu memang pilihan hidupnya dan aku tidak bisa berbuat apa-apa. Kini kedua kalinya dan adalah saat dia benar-benar tiada akupun harus benar-benar rela karena memang ini sungguh suratan takdir dari-Nya.
Oh adikku… Kami senantiasa berdoa untukmu. Kami sayang padamu. Mudah-mudahan selalu diterangi kubur-Mu dan diterima segala amal ibadah-Mu.
Pagi ini kudengar mama dengan merdu dan menahan isak tangis melantunkan ayat suci Al-Qur’an Surat Ar-Rahman. Aku kembali menangis tersedu mendengarkanmu bunda menyejukkan hatiku dan memberikan penerangan dihatiku atas segala permasalahanku dan rasa kehilanganku saat ini.
Fabiayyi aala irobbikuma tukadziban (Nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan?) kalimat itu diulang sebanyak 63 kali dalam surat Ar-Rahman.
Ya Allah ya Tuhanku…
Pasrahkanlah aku dengan takdir-Mu
Sesungguhnya apa yang telah Engkau takdirkan
Adalah yang terbaik buatku
Karena Engkau Maha Mengetahui
Segala yang terbaik buat hambaMu ini
Ya Allah…
Cukuplah Engkau saja yang menjadi pemeliharaku
Di dunia dan di akhirat
Dengarlah rintihan dari hambaMu yang daif ini
–Pada saatnya, jasmani kita akan menua kemudian binasa, hanya ruh kita yang azali, abadi, eternity…–
Categories: Diary
Aku sudah terbang, perang sudah usai, aku sudah senang dan aku sudah menang..
Tapi ternyata perang yang kumenangkan sangat berakibat fatal. Sekarang aku harus menghadapi sisa-sisa perjuanganku yang kuharap dapat menjadi akhir peperangan dengan sebuah perdamaian. Perdamaian yang akan menyenangkan semua pihak, perdamaian yang akan menutup luka-luka peperangan dan perdamaian yang membawa sebuah ketentraman. Perdamaian itu akan aku peroleh jika aku bersedia menghadiri 6 kali pertemuan perundingan yang mengharuskan aku selalu siaga. Siaga jikalau aku ditikam dimeja perundingan, siaga jikalau aku tertidur dan terlena dalam perundingan dan siaga jikalau ternyata perundingan itu hanya sebuah sarana meletusnya bom nuklir yang akan menewaskan semuanya.
Hhuuuufffffffffffffffffffffffffff………………..
Tambah ga jelas ya tulisanku teman…
Aku kembali bangun malam dan menyerahkan seluruh persoalan hanya kepada-Nya. Kali ini, dengan hati yang lebih tenang, di setiap rakaat kedua aku membaca surat Alam nasyrah laka shadrak (“Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu?”). Aku memohon kepada Allah agar Dia melapangkan dan menyembuhkan hatiku yang terhimpit dan terluka. Di setiap kali membaca ayat Fainna ma’al ‘usri yusra, inna ma’al ‘usri yusra (“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”), Aku menangis… tapi hati aku terasa lega… seolah-olah aku melupakan sama sekali hal-hal yang sangat memilukan. Ayat yang diulang dua kali itu, telah mampu menghentak kesadaranku akan sebuah sunnatullah bahwa jika kita dalam kesulitan kita tidak harus terus menerus larut, tapi kita seyogyanya bangkit kemali untuk mencari jalan keluar menuju kemudahan. Sebaliknya, jika kita diberi nikmat kesenangan, kita harus bersiap-siap untuk sewaktu-waktu jatuh dalam kesengsaraan jika mengkufuri berkah-berkah yang Tuhan berikan.
Nggak ada air keruh yang tak terjernihkan, dan gak ada benang kusut yang tak teruraikan.
InsyaAllah, dengan RidhoMu Tuhan, aku akan berjuang dalam meja perundingan dan membawa sebuah perdamaian.
–kemenangan perang ternyata bukanlah akhir, tapi awal yang mengerikan–
Categories: Diary
Aku memenangkan Peperanganku kawannnn…
Makasih ya!!!!
Ceritanya panjang, tapi maaf.. aku sekarang belum sempet nulis cerita panjangnya, sementara aku posting blog singkat ini dulu ya.. well, aku rasa cukup koq untuk menjawab rasa penasaran dan pertanyaan-pertanyaan kalian atas peperanganku beberapa hari ini, dan tentunya aku tidak ingin membiarkan kalian terus mengkhawatirkan aku lagi.
So, i just wanna tell u that everything is running well.
Alhamdulillah… Aku menang kawan, aku sudah terbang meninggalkan sangkarku tapi walaupun demikian aku tidak boleh takabur karena aku masih tetap harus berjaga-jaga atas pemburu liar diluar sana, karena bagaimanapun kehidupan luar juga pasti penuh dengan ancaman dan membutuhkan lebih banyak perjuangan.
Ohya, aku juga mendapatkan bonus atas kemenanganku lho… aku mendapatkan tawaran sebuah singgasana yang tentu saja tidak dapat aku tolak begitu saja.
Don’t worry guys, when we meet each other i’ll tell u the full story.
I am Happy Now!!!
–Peluk cium sayangku untuk kalian semua, Love you all.. Mmmuuachh…–
Categories: Diary
Akhir-akhir ini banyak kisah yang ingin aku torehkan disini, ingin rasanya berbagi untuk sedikit mengurangi beban di hati. Lewat tulisan aku bisa mengekspresikan semuanya. Well, mudah-mudahan kalian tidak bosan membacanya ya… Jika dirasa terlalu berat, anggap saja ini dongeng belaka, karena memang ini hanya dongeng kenestapaan hidup seorang pejuang kehidupan.
15 Desember 2008,
Untuk kesekian kali aku mengunjungi dokter penyakit dalamku, dan untuk kesekian kalinya pula dia mengatakan semua penyakitku berawal dari pikiranku, dia bilang “jaga pola hidup, pola makan dan pola pikir, jangan biarkan otak kamu cengeng”. Hmm.. aku menemukan kalimat baru, baru kali ini aku mendengar otak bisa cengeng.
Aku sadar betul, dokter tidak salah mendiagnosaku karena ada yang harus aku perjuangkan saat ini yang menguras seluruh tenaga dan pikiranku. Terlebih hari ini adalah hari dimana aku memberanikan diri menyatakan keberanianku untuk memulai perang baru.
16 Desember 2008,
Genderang perang sudah ditabuh, barikade pasukan sudah bersiap menunggu perintah penyerbuan. Namun sayang, panglima perang masih ragu untuk meneriakkan aba-aba penyerbuan. Bukan karena ragu untuk memulai peperangan tapi panglima perang terlalu memikirkan pasukan yang kelak jatuh bergelimpangan. Meskipun demikian, pasukan terus sabar menunggu hingga akhirnya desakan dari lawan sudah tidak bisa tertampung lagi dan memang “harus segera diselesaikan”. Sebuah perjuangan menuju kebahagiaan.
Aku sangat bahagia mengetahui banyak orang yang senantiasa bersedia berada disisiku untuk mendukung dan menjagaku. Tapi aku sadar betul bahwa ini adalah perangku dan aku harus menghadapinya sendiri. Ku kumpulkan sayap-sayap keberanianku yang telah berserakan di dalam sangkar kristal itu. Aku siap kali ini. Aku akan pertaruhkan semuanya.
Di setiap penghujung malamku, aku senantiasa berdoa kepada Sang Penciptaku, aku panjatkan doa untuk-Nya demi mendapatkan ridho-Nya dalam setiap langkahku, demi mendapat ketenangan dan kekuatan untuk menghadapi semua ini, mendapat petunjuk jalan menuju jalanku dan demi keselamatanku, keselamatan keluargaku, keselamatan orang-orang disekitarku. Aku ikhlas ya Tuhan.. Aku mohon ampunan-Mu..
17 Desember 2008,
Hari ini aku menghindar dari rutinitasku untuk sejenak menghadapi peperanganku. Hari ini, aku terima tamparan itu, aku terima belati itu dan aku masih menunggu ranjau-ranjau yang senantiasa meledak setelah itu.
————————————————————–
Sobat.. Terima kasih atas doa dan dukungannya.
Terima kasih manda, terima kasih debby, terima kasih sinta, terimakasih imelda, terimakasih vera, terima kasih lelakiku dan terima kasih mama tercintaku.. Kalian adalah sumber keberanianku. I love you all..
Aku harus kuat untukku dan untuk kalian..
Categories: Diary
13-14 Desember 2008, pukul 23.00 - 06.00 WIB.
Malam dimana kuceritakan segala kisahku padamu.
Tentang darah yang menetes dari setiap hembusan nafasku, tentang kegelisahan, kebingungan, tentang lingkaran kehampaan dan perjalanan menuju sirna, tentang kematian perlahan-lahan. Aku mati di saat kehidupan disemaikan, seperti burung yang terkurung dalam sangkar kristal. Tahukah kamu kawan bahwa di sangkar itu burung-burung mati tanpa suara? Mereka terbunuh tanpa luka.
Aku tidak menyangkal dunia ini penuh dengan aneka warna dan warna cintalah yang paling mendominasi. Cintalah yang memberi kekuatan untuk memaafkan, marah, dendam, benci, sayang, berkorban dan memberi. Cintalah yang mendorong orang untuk melakukan segalanya, termasuk bunuh diri.
Aku ditepian kerapuhan, aku tahu di sekitarku tersedia segala yang kuperlukan namun untuk kali pertama aku terjerumus dalam lubang kehidupan. Aku berbisik lirih mengendalikan perasaanku, “Jangan bersedih!” Kamuflase pun aku lakukan, termasuk sedikit penyesuaian. Tanpa mengurangi kebenaran dan hakikat setiap peristiwa, penyesuaian dilakukan demi menjaga keselamatan.
Hadirmu..
Perlahan mengurai benang kusut dalam hidupku, pemikiran rasional sejalan dengan perasaan mulai terdengar. Akankah ini menjadi awal segala? Atau menjadi ranjau di kehidupan yang akan datang? Aku tak tahu. Yang aku tahu, untuk saat ini aku telah mendapatkan setetes air pelepas dahaga dan secercah sinar pengharapan.
Terima kasih kawan..
Mengingat begitu mudahnya kamu mengulurkan tanganmu untuk orang lain atau bahkan menyediakan bahumu untuk sandaran orang lain, mungkin apa yang telah kau lakukan padaku ini bukanlah hal yang seberapa. Tapi ketahuilah kawan, ini sangat berarti bagiku. Setiap kata yang terucap darimu aku cerna, aku resapi dan aku pahami sebagai tamparan untukku.
Tidak berani untuk berharap banyak, tidak berani untuk menjanjikan banyak. Aku cuma ingin kamu tahu, semua ini bukan keinginanku, keinginanku terpasung layaknya diriku. Hidupku terlipat dalam lipatan kertas dan pena yang perlahan menghisap sisa umurku. Aku terpenjara kawanku..
Kawan.. Terima kasih..
Malam itu, dalam dirimu kutemukan jiwaku..
—-cerita ini terangkai darimu dan teruntukmu, i miss you fellow—-
Categories: Diary
Kring.. Kring.. Kring..
Ponselku berdering lagi.. Ingin kuraih, ingin kujawab ingin kusapa orang diseberang sana. Tapi untuk kesekian kalinya aku tidak punya keberanian untuk itu. Beberapa hari belakangan ini aku merasa “keamananku” terancam. Bukan keamanan secara fisik tapi psikis. Bukan terhadap semua orang yang meneleponku tapi hanya orang ini saja. Entah mengapa aku merasa lelaki ini mempunyai peranan besar untuk menghancurkan “garis amanku”. Dan karena alasan itu pula aku acuhkan deringan ponselku.
Kring.. Kring.. Kring..
Suara dering kembali terdengar. Aku mengulurkan tanganku untuk meraih sumber deringan itu. Ternyata orang yang sama, “lelakiku”. Seketika itu pula aku urungkan niatku menjawab deringan itu. Logikaku berkata “Jangan, kamu belum siap”. Sebagian orang mungkin menganggap aku terlalu berlebihan, tapi untukku itu adalah sebuah pilihan yang sukar. Ketika aku dihadapkan dengan sebuah pilihan untuk tetap berada di daerah aman atau untuk beranjak ke daerah yang aku tidak ketahui ujung pangkalnya. Aku memilih untuk bertahan in my safety zone. Bukan tanpa alasan, bukan tanpa perhitungan. Semua sudah kuperhitungkan dan aku harus tegas dengan hidupku.
Kring.. Kring.. Kring..
Sekali lagi sebuah tawaran yang “mungkin datang” untuk mengajakku melangkah keluar dari daerah amanku memanggilku. Bergejolak hatiku, apakah harus aku teruskan atau berhenti sama sekali. Aku tak sanggup untuk memilih keduanya karena aku ingin seperti ini saja. Aku senang menikmati rasa ini, aku senang dengan imajiku, aku senang dengan kebahagiaanku saat ini. Aku suka keabstrakan ini. Aku tidak butuh penjelasan apapun darinya, kalaupun aku memperolehnya aku tahu aku tidak bisa berbuat apa-apa selain bergeming di tempatku.
Kring.. Kring.. Kring..
Oh, mungkin aku hanya besar kepala saja. Mungkin dia tidak seperti yang aku pikirkan. Mungkin aku yang terlalu berlebihan menilai sikapnya padaku (over react). Tapi bukankah aku menyukai caranya?? Bukankah aku membalas setiap lambaian tangannya?? Lalu mengapa ketika dia hendak mengetuk pintu rumahku untuk sekedar mengajakku menikmati secangkir teh aku melarikan diri?? Ketakutan ini terlalu berlebihan. Aku takut kepada diriku sendiri, bukan kepadanya.
Kring.. Kring.. Kring..
Aku tahu aku belum siap. Seringkali perasaanku tidak bisa berjalan beriring dengan logika. Tapi untuk kali ini aku bisa membuatnya demikian. Aku tidak ingin terulang lagi. Aku tidak ingin membuang waktuku tak berarti. Aku tidak ingin kekuatan hatiku yang kubangun sekian lama runtuh seketika dalam hitungan hari. Terlalu cepat lelakiku, ijinkan kunikmati sendiri.
Kring.. Kring.. Kring..
Bukan aku tidak mau mengangkat teleponmu, but for me it needs more courage. Biarkan aku yang meneleponmu saat aku sudah bisa menata rapi hatiku, menata hasratku, menata imajiku, menata sudut pandangku padamu. Aku tahu aku egois tidak memikirkan perasaanmu, tapi tahukah kamu hadirmu menyulitkanku. Mungkin akan lebih mudah jika kamu membenciku, jika kamu mengabaikan sapaku dan jika kamu berhenti menyalakan messangermu. Kembali seperti pada awal mula perjumpaanku denganmu. Mengertilah, tidak ada yang salah darimu, ini semua salahku karena memang semua tidak semudah yang kau kira lelakiku..
Kring.. Kring.. Kring..
Maafkan aku…
——-tuuuuuuut….nomoryangandatujusedangtidakaktifcobalahbeberapasaatlagi——-
Categories: Diary
Senin, 1 Desember 2008. Hari pertama aku kembali bekerja setelah kurang lebih 2 minggu pendidikan —dua minggu yang sangat indah dalam hidupku, setelah bekerja 3 tahun lamanya kutemukan lagi suasana seperti kuliah atau SMA dulu, bertemu orang2 baru yang sangat sportif dan menyenangkan—.
Suasana kantor masih seperti ketika terakhir kutinggalkan, sepi dan minim aura kehidupan. Ntah mengapa kantor menjadi hampa setelah beberapa kejadian yang menimpa. Sudah sangat jarang kuli tinta yang singgah meski hanya sekedar untuk menghilangkan lelah dan dahaga.
Kuawali hariku pukul 08.30 WIB dengan memasukkan jemariku di hand key dan kusapa ringan temanku yang sebentar lagi melepas masa lajangnya -sungguh ceria senyumnya akhir2 ini-. Aku menuju ruang kerjaku setelahnya, menyapa sahabatku dan bercengkrema sebentar menceritakan kisah-kisah indahku saat pendidikan.
Semuanya berjalan normal, Bos ku datang dan tak lama aku ijin untuk medical check up yang membuatku melewatkan suasana kantor hingga pukul 15.00 WIB.
Ku buang lelahku di kursiku sebelum memulai aktifitas kerjaku lagi. 2 Jam berlalu tanpa terasa sudah pukul 17.00 WIB. Alhamdulillah, saatnya pulang tiba. Senang hatiku mengingat akan bertemu dengan kawan lama malam harinya. Namun, ternyata rencana itu harus di reschedule karena sebuah deringan telp dari salah satu penguasa di kantorku memanggilku ke ruangannya. Tanpa berpikir panjang aku beranjak dari kursiku, dalam hati berbicara “tumben, ada apa ya? Oh mungkin beliau ingin menanyakan bagaimana hasil pendidikanku kemarin”.
Ku ketuk pintunya dan aku dipersilahkan duduk dihadapannya. Memang benar beliau menanyakan pendidikanku, tapi tidak lama setelah itu beliau menanyakan sesuatu hal diluar pemikiranku : “fifi, rumor beredar bahwa kamulah pengirim sms yang menghebohkan beberapa minggu lalu. Saya ingin klarifikasi apakah benar demikian?”. Deg, jantungku berhenti seketika. Ya Allah, apalagi berikutnya. Dengan lantang aku berkata “bukan saya orangnya” well, sebuah pengakuan yang mungkin sudah tak ada gunanya karena ternyata rumor itu berkembang begitu cepatnya layaknya virus flu di masa pancaroba.
Beberapa hal yang tidak masuk akal dia katakan kepadaku, hal-hal yang menunjukku dan memaksaku berada di kursi sang pesakitan, si siti sirik atau bahkan nenek sihir. Aku tak habis pikir baru 2 minggu aku pergi dari kursi ku dan seketika itu pula virus tersebar membuatku jadi tersangka penyebar virus itu. Tak terpikir olehku, sebegitu hebatnya diriku hingga ada orang yang ingin menghancurkanku. Ini bukan yang pertama kali, ini sudah kesekian kali. Aku dijadikan kambing hitam yang sungguh akan membuat senang beberapa pihak yang memang menginginkan.
Semua penjelasan, semua logika, semua analisa aku persembahkan untuk beliau hanya untuk mencoba meraih puing-puing harga diriku yang sudah hancur lebur berantakan. Aku emosi, aku terpancing untuk membawa belati tertajamku sebuah amarah. Sebuah amarah yang kapanpun bisa terpecahkan tanpa melihat keadaan sekitar. Semua ingin kuhadapi saat itu juga. Semua yang ada didepanku ingin aku habisi kala itu juga. Ingin segera kuangkat kaki utuk menghadap “Raja Si Penguasa” tapi tertahan oleh suara kebapakan dari beliau yang memintaku menghadap itu. Aku ingin teriak, walau aku tau itu percuma.
Sungguh aku sudah DIAM. Apalagi yang kau inginkan??????? Be Gentle Please… Apakah hanya undangan kematian yang akan membuatmu berhenti memojokkan aku????
Cukup lama aku berargumen dan mendengarkan petuah-petuah bijaknya sebelum aku dapat menahan emosi dan memutuskan untuk segera pulang sebelum hal-hal “yang aku inginkan” terjadi. Aku pulang…
Aku simpan emosiku, aku tenangkan diriku, sujudku untukMu Tuhan, Sang Pencipta Alam, Sang Maha Kuasa. Aku ikhlas.. Aku percaya ini salah satu ujian hidupku untuk menjadi orang yang lebih baik dan lebih besar. Aku juga percaya seperti yang sudah-sudah bahwa semua ujian yang Kau berikan pasti juga Kau berikan jawabannya. Amien…
Jangan pergi dulu, sekarang aku sudah tidak bisa tinggal diam seperti dulu lagi.
Ingat, akan aku hadapi kamu.
Categories: Diary
Have you ever been in love? Amazing isn’t it?
It builds up, from a quiet, barely audible violin, it’s harmless, fun, and you never see it coming until its crescendo, glorious and majestic. Whatever foolishness you built up around you, whatever pit you were stagnant in, they end. You suddenly gain endless vigor. Everything is done for his sake. It takes over your mind, his image every time more beautiful. Your brain is no longer yours and reason leaves you. Blessed is the man freed from the chains of logic! Only then can he truly come to know something absolute and eternal, and that is love! The melody suddenly reaches its peak, and must sadly end. Either with one last bombastic piece, or slowly, withering, sometimes peaceful, sometimes horrible.
Ah, but does the experience teach us, and what lessons does it teach! It is incomparable. Nothing should be able to do this, but love only!
And yet it makes you so vulnerable. It opens your chest and it opens up your heart and it means someone can get inside you and mess you up. You build up all these defenses. You build up a whole armor, for years, so nothing can hurt you, then one stupid person, no different from any other stupid person, wanders into your stupid life… You give them a piece of you. They didn’t ask for it. They did something dumb one day, like kiss you or smile at you, and then your life isn’t your own anymore. Love takes hostages. It gets inside you. It eats you and leaves you crying in the darkness turning every word into a glass splinter working its way into your heart. It hurts. Not just in the imagination. Not just in the mind. It’s a soul-hurt, a body-hurt, a real
gets-inside-you-and-rips-you-apart pain.
Nothing should be able to do that. Especially not love.
Two beliefs on an opposite spectrum.
Proofs that black and white are grayer than we would hope.
Categories: Uncategorized
Episode ini…
Aku kembali teringat jelas lukaku dan kini terjerembab lagi dalam kubangan hati hitam yang seharusnya sudah ku tutup rapih akhir tahun lalu.
Meskipun bersamanya aku tersentuh akan kerapuhan hatinya yang begitu sederhana indahnya, dan merasakan begitu hangatnya air mata lukanya, yang membuat begitu kuat keinginanku untuk menjaganya dengan jamahan kasih dan cintaku atas luka hatinya saat ini.
Tapi mengapa aku muak mendengar pekikkan parau hatiku sendiri yang terus menghujam dan meraung pada bulanku.
Tuhan..
Kumohon..
tolong
kau
sudahi
episode
ini
untukku..
ku m o h o n
Categories: Uncategorized
The whole “happily ever after” thing is a choice.
There doesn’t need to be a prince charming, or a fancy castle, or a big house.
Happily ever after comes from realizing that “happily ever after” originates from one’s heart, mind and attitude. I agree that this definition defies all critical thinking models – still, there can be no other explanation.
Glad that enlightenment occurred for me while I still have time to enjoy it.
So, when you see me on the street and I have a slight “Mona Lisa” smile – don’t ask my secret. Know it’s because I’m living happily ever after!
Categories: Uncategorized